fbpx

Cara Menilai Efisiensi Anggaran Lembur dari Data Tiap Divisi

Saat melihat satu divisi mencatat biaya lembur paling tinggi, HR biasanya langsung meminta penjelasan dari kepala divisi. Padahal, nominal yang besar belum tentu berarti penggunaannya tidak efisien. Bisa jadi jumlah karyawannya memang lebih banyak, tarif upahnya lebih tinggi, atau jam lemburnya lebih panjang karena kebutuhan operasional.

Karena itu, jangan membandingkan total rupiah saja. Baca anggaran, realisasi, varians, persentase serapan, biaya per karyawan, jam lembur per karyawan, dan beban lembur terhadap anggaran gaji secara bersamaan. Dengan cara ini, perbedaan antar divisi bisa dilihat lebih adil dan HR tidak terburu-buru menyebut divisi tertentu sebagai yang paling boros.

Mulai dari data yang benar-benar sebanding

Perbandingan hanya akan berguna jika dasar datanya sama. Gunakan periode bulanan yang sama dan pastikan anggaran serta realisasi berasal dari kategori lembur yang konsisten.

Data minimum yang perlu dikumpulkan dari setiap divisi mencakup anggaran lembur bulanan, realisasi lembur, jumlah karyawan, total jam lembur, dan anggaran gaji. Tambahkan informasi tentang hari terjadinya lembur jika perbedaan tarif antara hari kerja dan hari libur memengaruhi nilai biayanya.

Data

Fungsi dalam analisis

Anggaran lembur

Menunjukkan batas biaya yang direncanakan.

Realisasi lembur

Menunjukkan biaya yang benar-benar tercatat atau dibayarkan.

Jumlah karyawan

Menjadi pembagi agar divisi besar tidak otomatis terlihat lebih boros.

Total jam lembur

Membantu melihat apakah biaya tinggi disebabkan oleh durasi lembur.

Anggaran gaji

Menunjukkan beban lembur dibandingkan ukuran payroll divisi.

Status hari lembur

Membantu menjelaskan perbedaan tarif dan jenis biaya.

Samakan juga status datanya. Jangan membandingkan anggaran bulan berjalan pada satu divisi dengan realisasi bulan sebelumnya pada divisi lain. Lembur yang belum mendapat persetujuan, masih dalam proses payroll, atau merupakan koreksi periode sebelumnya perlu diberi penanda yang jelas.

Untuk dasar perhitungan, HR dapat menjadikan Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2021, Peraturan Menteri No. 102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur, Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. KEP.102/MEN/VI/2004, serta Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai konteks yang perlu diverifikasi. Detail tarif, batas waktu, dan pembagi upah per jam sebaiknya mengikuti ketentuan terbaru yang berlaku bagi perusahaan, bukan asumsi dari laporan lama.

Jangan berhenti di total rupiah

Setelah datanya seragam, susun satu tabel pembanding bulanan. Metrik di dalamnya tidak harus dijadikan satu skor, karena setiap angka menjawab pertanyaan yang berbeda.

Divisi

Anggaran

Realisasi

Varians

Serapan

Jumlah karyawan

Jam lembur

Biaya per karyawan

Jam per karyawan

Biaya lembur/anggaran gaji

Divisi A

…

…

…

…

…

…

…

…

…

Divisi B

…

…

…

…

…

…

…

…

…

Rumus yang digunakan cukup sederhana:

  • Varians anggaran = realisasi – anggaran.

  • Persentase serapan = realisasi / anggaran × 100%.

  • Biaya lembur per karyawan = realisasi / jumlah karyawan.

  • Jam lembur per karyawan = total jam lembur / jumlah karyawan.

  • Persentase biaya lembur terhadap anggaran gaji = realisasi lembur / anggaran gaji × 100%.

Varians negatif berarti realisasi berada di bawah anggaran, sedangkan varians positif berarti realisasi melampaui anggaran. Namun, varians saja belum menjelaskan apakah penyebabnya adalah perencanaan yang terlalu longgar, pekerjaan yang meningkat, atau pencatatan yang belum lengkap.

Biaya per karyawan membantu menormalkan ukuran divisi. Jam lembur per karyawan membantu memisahkan pengaruh tarif upah dari banyaknya waktu lembur. Adapun persentase biaya lembur terhadap anggaran gaji menunjukkan seberapa besar beban lembur dibandingkan keseluruhan payroll divisi.

Membaca divisi yang tampak paling mahal

Divisi dengan realisasi terbesar belum tentu menjadi divisi yang paling bermasalah. Divisi operasional dengan jumlah karyawan lebih banyak memang dapat memiliki total lembur yang lebih tinggi daripada divisi kecil, meskipun biaya dan jam lembur per orangnya lebih rendah.

Saat membaca hasilnya, ajukan beberapa pertanyaan berikut sebelum membuat peringkat “paling boros”:

  • Apakah jumlah karyawannya memang jauh lebih besar?

  • Apakah jam lembur per karyawan juga tinggi?

  • Apakah biaya per karyawan tinggi karena tarif upah atau jenis hari lemburnya?

  • Apakah realisasi melampaui anggaran, atau hanya tampak besar secara nominal?

  • Apakah biaya lembur mengambil porsi besar dibandingkan anggaran gaji divisi?

Setidaknya ada empat hal yang perlu dipisahkan: ukuran tim, jumlah jam lembur, tarif upah, serta jenis atau hari lembur. Perbedaan nominal yang terutama disebabkan oleh ukuran tim tidak bisa dibaca dengan cara yang sama seperti perbedaan yang tetap tinggi setelah dihitung per karyawan.

Karena itu, laporan ini sebaiknya dipakai sebagai sinyal untuk memeriksa lebih lanjut, bukan sebagai vonis terhadap kepala divisi. Konteks operasional tetap perlu dilihat sebelum HR menyimpulkan bahwa anggaran digunakan secara tidak efisien.

Contoh: realisasi terbesar belum tentu paling bermasalah

Contoh berikut menunjukkan mengapa nominal dan persentase serapan bisa mengarahkan pemeriksaan ke fokus yang berbeda. Angka upah per jam Rp28.846 dalam contoh ini adalah angka ilustratif, bukan data resmi Zemangat. Asumsinya, Divisi A dan Divisi B masing-masing memiliki satu karyawan dengan gaji bulanan Rp5.000.000, dan lembur terjadi pada hari kerja.

Divisi A merencanakan lembur selama 3 jam. Dengan upah per jam contoh Rp28.846, jam pertama dihitung 1,5 × Rp28.846 = Rp43.269. Dua jam berikutnya dihitung 2 × Rp28.846 × 2 = Rp115.384. Estimasi biayanya menjadi Rp158.653.

Divisi B merencanakan lembur selama 2 jam. Jam pertama bernilai Rp43.269 dan jam kedua bernilai 2 × Rp28.846 = Rp57.692. Estimasi biaya Divisi B adalah Rp100.961.

Indikator

Divisi A

Divisi B

Jumlah karyawan

1

1

Jam lembur

3 jam

2 jam

Estimasi realisasi

Rp158.653

Rp100.961

Biaya per karyawan

Rp158.653

Rp100.961

Selisih nominal

Divisi A lebih tinggi Rp57.692 atau sekitar 57,1%

Karena jumlah karyawan kedua divisi sama, biaya per karyawan menghasilkan kesimpulan yang sama dengan total nominal: Divisi A lebih tinggi. Namun, ketika anggarannya berbeda, persentase serapan bisa menunjukkan cerita yang lain.

Misalnya, anggaran Divisi A adalah Rp200.000 dan realisasinya Rp158.653. Variansnya adalah Rp158.653 – Rp200.000 = -Rp41.347, dengan serapan sekitar 79,3%.

Anggaran Divisi B adalah Rp120.000 dan realisasinya Rp100.961. Variansnya adalah Rp100.961 – Rp120.000 = -Rp19.039, dengan serapan sekitar 84,1%.

Dalam skenario ini, Divisi A memiliki realisasi nominal yang lebih tinggi, tetapi Divisi B memiliki persentase serapan yang lebih tinggi. Artinya, tidak tepat jika HR hanya menindak divisi dengan angka rupiah terbesar. Divisi B tetap layak ditelusuri karena ruang anggarannya lebih banyak terserap, sementara Divisi A perlu dibaca dari sisi penyebab nominalnya yang lebih besar.

Selisih anggaran bukan alasan untuk langsung memangkas alokasi

Selisih anggaran adalah awal pemeriksaan. Sebelum mengurangi alokasi bulan berikutnya, cari tahu apakah lembur dipicu kebutuhan operasional yang nyata, lonjakan pekerjaan, kekurangan kapasitas, jadwal yang tidak seimbang, atau perubahan prioritas bisnis.

Kualitas datanya juga perlu diperiksa. Pastikan semua lembur sudah mendapat persetujuan, bandingkan jam yang direncanakan dengan jam yang direalisasikan, dan cek apakah lembur pada hari kerja serta hari libur tercatat dalam kategori yang benar. Kesalahan klasifikasi kecil dapat membuat satu divisi terlihat lebih mahal daripada kondisi sebenarnya.

Jika data sudah valid, bahas temuannya bersama kepala divisi. Tindak lanjutnya bisa berupa perbaikan jadwal, distribusi beban kerja, penyesuaian kapasitas tim, disiplin approval, atau revisi anggaran berdasarkan pola aktual. Untuk kebutuhan yang berulang, bandingkan beberapa bulan agar keputusan tidak bertumpu pada satu kejadian luar biasa.

Pada akhirnya, laporan yang baik bukan hanya menunjukkan divisi dengan biaya lembur tertinggi. Laporan tersebut membantu HR dan finance menjawab mengapa angkanya berbeda, apakah perbedaannya wajar, dan tindakan apa yang paling masuk akal tanpa mengganggu kebutuhan operasional.