fbpx

Divisi Mana yang Paling Sering Lembur? Cek dengan 4 Metrik Ini

Saat total biaya lembur naik, divisi dengan nilai rupiah terbesar biasanya langsung menjadi perhatian. Padahal, divisi itu mungkin memiliki jumlah karyawan yang jauh lebih banyak atau menangani kebutuhan operasional yang berbeda.

Supaya perbandingannya lebih adil, HR perlu melihat beberapa sisi sekaligus: jumlah pengajuan lembur yang disetujui, frekuensi karyawan lembur, total jam, dan total biaya. Setelah itu, baca angka tersebut bersama rasio per karyawan. Dengan cara ini, HR bisa membedakan divisi yang besar secara volume dari divisi yang memang memiliki intensitas lembur tinggi.

Peringkat ini sebaiknya digunakan sebagai sinyal untuk pemeriksaan, bukan sebagai vonis bahwa suatu divisi atau manajer menyalahgunakan lembur.

Pastikan dasar datanya sama

Sebelum membandingkan divisi, samakan periode analisis untuk data pengajuan, persetujuan, kehadiran, payroll, dan jumlah karyawan. Jika laporan pengajuan memakai satu bulan, sedangkan data karyawan berasal dari periode berbeda, rasio yang dihasilkan bisa menyesatkan.

Status pengajuan yang dihitung juga perlu jelas. Untuk membaca biaya dan pola lembur, bedakan pengajuan yang masih menunggu persetujuan, ditolak, dibatalkan, dan disetujui. Apa pun definisi internal yang digunakan, terapkan secara konsisten pada semua divisi.

Setidaknya, laporan per divisi perlu memuat:

  • Nama divisi atau departemen.

  • Jumlah karyawan pada periode analisis.

  • Jumlah pengajuan lembur yang disetujui.

  • Frekuensi karyawan yang lembur.

  • Total jam lembur.

  • Total biaya lembur.

Frekuensi karyawan memberi informasi yang berbeda dari jumlah pengajuan. Satu karyawan dapat mengajukan lembur beberapa kali. Karena itu, HR perlu melihat apakah lembur hanya terkonsentrasi pada beberapa orang atau tersebar di banyak karyawan.

Jangan biarkan satu angka menentukan kesimpulan

Setiap metrik menceritakan bagian yang berbeda. Jumlah pengajuan menunjukkan volume permintaan lembur, total jam menunjukkan beban waktu tambahan, dan biaya menunjukkan dampak finansialnya. Rasio per karyawan membantu membandingkan divisi dengan ukuran tim yang tidak sama.

Metrik

Rumus

Yang ditunjukkan

Jumlah pengajuan disetujui

Dihitung dari seluruh pengajuan berstatus disetujui

Volume pengajuan lembur

Frekuensi per karyawan

Jumlah pengajuan disetujui ÷ jumlah karyawan

Intensitas pengajuan dibanding ukuran tim

Total jam lembur

Penjumlahan seluruh jam lembur yang disetujui

Volume waktu kerja tambahan

Jam per karyawan

Total jam lembur ÷ jumlah karyawan

Rata-rata intensitas jam per karyawan

Total biaya lembur

Penjumlahan biaya lembur pada periode yang sama

Volume biaya lembur

Biaya per karyawan

Total biaya lembur ÷ jumlah karyawan

Intensitas biaya dibanding ukuran tim

Rasio tersebut bukan ambang universal untuk menyatakan lembur berlebihan. Bacalah bersama kebijakan perusahaan, pembanding historis, jenis pekerjaan, dan kebutuhan operasional yang berlaku.

Dalam praktiknya, jangan hanya mengurutkan divisi berdasarkan total biaya. Divisi dengan biaya tinggi bisa saja memiliki tim besar sehingga rasionya relatif rendah. Sebaliknya, divisi kecil mungkin mencatat total biaya yang tidak terlalu besar, tetapi biaya per karyawannya jauh lebih tinggi.

Pasangkan peringkat total dengan rasio

Buat setidaknya dua peringkat: satu berdasarkan total dan satu lagi berdasarkan rasio per karyawan. Tabel kerja dapat menggunakan kolom berikut:

Divisi

Jumlah karyawan

Pengajuan disetujui

Total jam

Total biaya

Frekuensi per karyawan

Jam per karyawan

Biaya per karyawan

Divisi A

Data perusahaan

Data perusahaan

Data perusahaan

Data perusahaan

Pengajuan ÷ karyawan

Jam ÷ karyawan

Biaya ÷ karyawan

Divisi B

Data perusahaan

Data perusahaan

Data perusahaan

Data perusahaan

Pengajuan ÷ karyawan

Jam ÷ karyawan

Biaya ÷ karyawan

Contoh tersebut bersifat ilustratif dan tidak memakai angka buatan. Masukkan angka aktual perusahaan untuk periode yang sama, lalu urutkan total dan rasio secara terpisah.

Hasilnya bisa dibaca seperti ini:

  • Total tinggi, rasio rendah: periksa volume pekerjaan dan kapasitas tim. Ukuran tim yang besar mungkin menjelaskan total tersebut.

  • Total rendah, rasio tinggi: divisi kecil menunjukkan intensitas lembur yang perlu ditelusuri, terutama jika polanya berulang

  • Total dan rasio sama-sama tinggi: divisi tersebut layak menjadi prioritas pemeriksaan karena memiliki volume sekaligus intensitas yang tinggi.

Perbedaan antara total dan intensitas sering menjadi temuan yang paling berguna. Satu divisi bisa berada di peringkat teratas untuk total jam dan biaya, sementara divisi lain berada di peringkat teratas untuk frekuensi per karyawan. Keduanya membutuhkan pertanyaan lanjutan yang berbeda.

Pastikan lonjakan bukan sekadar efek musiman

Satu periode dengan angka tinggi belum cukup untuk menyebut sebuah divisi mengajukan lembur secara berlebihan. Lembur bisa dipengaruhi kebutuhan operasional musiman, proyek sementara, penutupan periode, atau kondisi lain yang memang tidak muncul setiap bulan.

Bandingkan tren antarperiode dengan definisi metrik yang sama. Lihat apakah divisi tersebut hanya tinggi pada satu periode atau terus berada di kelompok teratas. Pola yang berulang lebih layak diperiksa daripada lonjakan tunggal yang memiliki alasan operasional jelas.

Angka juga perlu dibaca bersama konteksnya:


  • Apakah beban kerja tidak seimbang di dalam atau antar divisi?



  • Apakah ada kekurangan tenaga kerja atau posisi yang belum terisi?



  • Apakah target kerja terlalu tinggi dibanding kapasitas yang tersedia?



  • Apakah proses kerja masih banyak bergantung pada pekerjaan manual?



  • Apakah lembur muncul pada periode operasional yang memang bersifat musiman?


Ranking membantu menentukan urutan pemeriksaan, bukan menyimpulkan siapa yang salah. Pendekatan ini membuat HR terhindar dari tuduhan yang tidak didukung data dan membantu membuka diskusi yang lebih objektif dengan manajer divisi.

Gunakan sinyalnya untuk mencari penyebab

Tindak lanjut sebaiknya disesuaikan dengan pola yang terlihat. Untuk divisi yang tinggi pada total jam dan biaya, mulai dengan memeriksa kapasitas, volume pekerjaan, jadwal, dan kecukupan tenaga kerja. Pertanyaan utamanya: apakah banyaknya lembur memang sejalan dengan banyaknya pekerjaan, atau menunjukkan kapasitas yang sudah tidak seimbang?

Untuk divisi yang tinggi pada frekuensi per karyawan, periksa pola pengajuan berulang, pembagian jadwal, cara kerja tim, dan alur persetujuan. Lembur bisa saja tersebar di banyak karyawan, atau justru berulang pada orang yang sama.

Hubungkan hasilnya dengan data kehadiran, pengajuan, persetujuan, dan payroll. Perbedaan antara jam yang diajukan, disetujui, dan tercatat dalam kehadiran perlu dijelaskan sebelum HR menarik kesimpulan.

Jika perusahaan menggunakan laporan lembur dalam HRIS Zemangat, pastikan sumber datanya memakai periode, definisi status, dan struktur divisi yang sama. Nilai sebuah laporan bukan hanya pada tampilan peringkat, tetapi juga pada konsistensi data yang menjadi dasar peringkat tersebut.

Tiga pertanyaan saat membaca laporan lembur

Apakah total jam lembur tertinggi selalu berarti divisi paling bermasalah?

Tidak. Total jam hanya menunjukkan volume. Divisi dengan jumlah karyawan lebih besar bisa memiliki total jam tinggi, tetapi jam per karyawannya lebih rendah dibanding divisi kecil. Karena itu, total perlu dibaca bersama rasio per karyawan dan konteks pekerjaannya.

Apakah rasio per karyawan cukup untuk menentukan lembur berlebihan?

Belum. Rasio membuat perbandingan lebih adil, tetapi tidak otomatis menjadi bukti pelanggaran atau penyalahgunaan. Gunakan pembanding historis, kebijakan internal, kebutuhan operasional, serta data kehadiran dan persetujuan untuk menilai pola tersebut.

Kapan HR perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut?

Mulailah ketika sebuah divisi terus berada di peringkat atas, memiliki total dan rasio yang sama-sama tinggi, atau menunjukkan lonjakan yang tidak dapat dijelaskan oleh kebutuhan operasional. Pemeriksaan kemudian diarahkan pada kapasitas tim, beban kerja, penjadwalan, target, proses kerja, dan alur persetujuan.

Dengan pendekatan ini, HR tidak berhenti pada pertanyaan “divisi mana yang lemburnya paling besar?”. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: apakah yang tinggi itu volume, intensitas, atau keduanya—dan penyebab operasional apa yang menjelaskannya?